Posts

Showing posts from 2017
Image
Saya menyalin dari tulisan kalbu.

usai jalan menuju teluk
banyak yang ditemukan 
dari cambah, putik dan kudup nestapa
hinggap di karang, kelong dan keasingan 
aneh juga dari urat khatulistiwa, kelelahan hujung tahun memanjat ke lajur salju
yang sepertinya mahu memujuk
lalu ternyata ia semakin menganjur menjadi hijab tipis 
menghimpun kenangan, kebersamaan dan kesempatan.

Image
Seperti jalan menuju teluk, tidak tahu apa yang akan kita temukan di laluan yang landai atau tiba-tiba nanti pemanduannya memacu sedikit membukit. Entah sama ada kita harus berhenti di tebing atau sahaja dibiarkan menunggu seenaknya angin kering lagi asin mengapung beraduk dengan kepentingan sendiri. Masih banyak yang tidak pandai diterka. Begitu berlapis kedunguan saya untuk selalu penuh ta'azim menerima apa juga tampang takdir mahupun surat nasib yang melayah lalu hinggap di riba.
Image
Saat tarikh akhir tugasan yang saling bertindan-tindan dan akhirnya menindih kepala dengan migraine yang berat, puisi ini memujuk saya, datangnya seperti memijat dan mengelus penuh kasih: 
dari sayap-sayap burung kecil itu berguguran sepi, sepiku saat terhenti di sebuah taman ini daun jatuh di atas bangku
di antara datang dan suatu kali pergi beribu lonceng berbunyi kekal sewaktu bercakap kepada hati lalu kepada bumi. Di sini aku menanti
Puisi dari cd Sapardi Sebuah Taman Sore Hari. Pernah iamengapung pada suatu senja, ketika bersusun kereta sepanjang menuju jalan pulang. Ia sebenarnya turut mengapung sama rasa dan getar paling rahsia dan sulit untuk dialih wahana.
Image
Disember ternyata tidak lagi menjadi bulan yang dinanti-nanti untuk bercuti. Selain daripada Disember yang harus berbahagi petak takwimnya dengan Januari, dan ia sangat berlarutan panjang. Tidak seperti dahulu 31 Disember adalah garis penamat dan esoknya kita akan menumbuhkan ikrar baru. Keazaman untuk berlaku baik dalam segala hal, hampir menjadi mitos yang melucukan. Sedang kita cuba menjadi lebih baik daripada semalam (seringnya saya kandas), berlaku hampir selalu. Ia terjadi dalam beberapa ketika saat kesedaran untuk kembali menyala-nyala atau ia seperti melihat  kelibat sahabat saya si Putih (yang sudah lama perginya entah ke mana), melebarkan bukaan sayap untuk melayah. Indahnya untuk kembali. Nyamannya untuk kembali. Kesedaran ini getarnya sama ketika saya membuka halaman pertama buku catatan harian baru. Saya akan menulis dengan tinta yang jelas, semahunya dirapikan, cursive yang saya lunakkan seperti waktu di sekolah rendah saya diajar menulis sambung. Iya, saya mahu mula me…
Image
Untuk dua tahun menjalani penyelidikan di bawah dana KPT, saya mempunyai seorang pembantu. Ya, seperti PA. Alhamdulillah syukur. Enaknya mempunyai seorang pembantu yang banyak meringankan kaki tua saya untuk berurusan di tempat lain. Pembantu saya ini, namanya F, selain cekap memandu untuk membawa saya ke mana-mana, juga kelihatannya kami mempunyai citarasa yang sama. Sehingga F pernah memberitahu saya, beliau sudah mengenali saya. Cepat saya menjawab. Belum. F belum mengenali saya lagi dan saya menyambung di dalam hati, kerana saya sendiri belum mengenali hati saya sepenuhnya. Hati saya yang selalu berbolak balik, selalu berbeluk beluk dan tersandung dan jatuh. Allah ya Allah. Sukar sekali rupanya untuk kenal hati sendiri.  Apalagi untuk kenal hati orang lain. Hati dia yang sama sekali asing. Dia yang sama sekali jauh. Dia yang sama sekali menyeret saya ke wilayah aneh ini.
Image
Saya lupa besok cuti umum. Dan besok adalah hari besar meraikan Rasulullah. Saya sangat ingat kita  sedang menjalani bulan kelahiran Rasulullah, hanya tidak menyangka masa dan hari begini cepat berganti. Penulis buku Seindah Sabda Rasulullah, menitipnya awal untuk persediaan membaca dalam menikmati rasa mencintai Rasulullah. Terima kasih Sdr Muhd Nasruddin Dasuki, senior dan guru dalam penulisan dan juga merupakan editor pertama yang menyiarkan karya saya sewaktu saya berusia 15 tahun.
Image
Terima kasih Sdr Siti Haliza Yusop atas perhatiannya. 




Image
Sangat benar, dua nikmat yang sering terlupakan adalah kesihatan dan waktu lapang. Ia dibangkitkan dalam kuliah dhuha kami. Jarang sekali kita mahu mengangkat tangan untuk mensyukuri sihatnya kita ketika itu. Mungkin sahaja ia berbunyi aneh. Namun, alangkah manisnya nikmat berterima kasih saat kita memiliki. Allah ya Allah. Tanpa Allah perlu menguji kita dengan sakit, kita masih terus mahu menyitir syukur. Perihal yang sama, saat kita dalam batas masa yang tidak ditekan dengan deadlines, kita terus menadah tangan dengan berbisik kepada Allah, ya Allah terima kasih atas masa yang diberikan ini kerana dengannya saya dapat berbuat banyak kebaikan. Aneh, bukan? Sebaliknya, lazim kita sangat-sangat memerlukan Allah melapangkan masa ketika kita dihimpit beban kerja yang tidak sudah-sudah. Alangkah kita selalu menjadi yang bersyukur, tanpa garis batas. Ya, mencintai-Nya tanpa syarat.  Allah ya Allah.
Image
Mahasiswa kami meraikan buku baru SM Zakir, 20 Cerita tentang Tuhan. Sepanjang semester ini kami menekuni 20 cerpen yang terhimpun. Membahaskan struktur. Muatan yang dibawa merentasi banyak jalan mengenal banyak perihal antaranya dari sifat Allah, sadaqah, ketulusan dan perempuan (ya perempuan bersayap). Zakir merupakan sahabat lama dan sering juga menjadi mentor dalam penulisan saya. Kepada mahasiswa saya katakan, belajar dari penulisan yang baik. Salah satunya daripada adalah buku dan pengarang ini.
Image
Saya sering bertembung dengan pertelingkahan dalam memilih antara mahu bersederhana, dengan protokol; kemudian akan segera terkurung dalam pagar formaliti. Dalam wilayah pekerjaan saya, itu antara yang melemaskan dan malangnya saya selalu tewas. Mendengar kisah teman-teman di Eropah atau negara sebelah sana, tantangan ini hampir tidak perlu mereka depani. Tuntutannya hanya terhadap hasil yang bermanfaat dan menggembirakan semua. Saya seperti mahu memasuki satu lorong rahsia dan menyelinap di dalamnya kemudian menemukan satu wilayah baru yang setiap satunya dalam bersederhana. Tidak ada salutasi. Tidak ada birokrasi. Tidak ada kekalutan dengan setiap satunya harus rasmi.
Image
Dalam menjalani rutinitas, banyak perasaan sendiri yang sukar dilakar, sehingga ia memenuhkan seluruh inci dada. Menjadikannya ia satu wilayah buncah. Sering tidak jelas apa yang sedang dijalani. Suara sendiri juga sulit menyitirnya. Dan ia hampir tidak terdengarkan. Kadangkala ia menjadi cawan bancuhan warna yang tidak jelas kontur apalagi struktur makna. Semakin mahu diurai, nah, kian ia menjadi bauran yang kusut, ruwet malah. Maka tindakan yang paling bijak  adalah membawa diri ke ruang yang dapat mengamankan setiap keliru. Baris dan helai surah dari langit yang akan selalu memujuk dan selalu jujur. Ia melunakkan dan menawarkan rasa aman seperti menerima rinai di hujung jendela kamar pada detik dini.
Image
Saat mengetik ini, hujan musim yang mengguyur tanah, mulanya sangat berat kemudian saling bertukar sikap; lunak berselang hiba. Langit yang sudah kelabu, membawa sekian kali dia  menjarak walau dekat. Masa dan ruang yang merupakan antara teori kuliah kaji alam semasa mahasiswa, hampir tidak membawakan apa-apa erti lagi saat begini. Masa dan ruang yang sudah digenapkan dengan sepi. Sepertinya juga rutinitas dan formaliti melengkapkan segala menjadi sendiri. Sehinggakan Sar menyitir kepada dirinya, berusaha sebaik-baik untuk melupakan, tidak untuk melepaskan. Begitu rutinitas dan formaliti meledakkan kuasanya.
Image
Antara rasa bersyukur dengan ketakutan sebenarnya, apabila saya didatangi banyak sekali peringatan. Subhanallah. Dan saya tidak pernah meminta (atau saya meminta di bawah sedar) untuk sering diperingatkan. Subhanallah ia datang dari setiap penjuru mata angin yang ada. Semuanya datang mengetuk pintu kesedaran tanpa saya sangka sama sekali. Ya Allah, bagaimana saya didatangkan sahabat yang  menuntun saya setiap hari  dengan postings untuk lebih dekat dengan kebaikan. Bagaimana saya mengenali sosok yang mencintai anak yatim dalam seluruh hidupnya. Bagaimana saya bertemu dengan sahabat pesawat yang mengasuh saya untuk berikhlas hati. Bagaimana dengan tiba-tiba yayi yang muncul untuk selalu mengingatkan saya tentang ilmu solah. Ada juga yang menitip risalah tentang mencintai Rasulullah. Allah ya Allah. Setiap waktu dini saya disapa sahabat al-Qur'an yang seperti bunyi penggera, di mana tempat berjeda bacaan surah kami. Apa lagi yang saya tunggu untuk menjadi hamba Allah yang lebih bai…
Image
Saya demam sekembali daripada ranah asing. Demam seperti selalu setelah lelah atau mungkin sahaja apabila memaksa diri untuk segera menyertai jalan rutinitas kembali. Ringkih atau menjadi cengeng dengan bagaimana saya diperlakukan oleh tarikh-tarikh akhir lagi yang menunggu giliran di meja kerja. Atau apa seperti yang dibentangkan buat Pingkan saat Sarwono ditempatkan di rumah sakit di penghujung halaman Hujan Bulan Juni, demikianlah Surat Takdir pun dibaca berulang kali tanpa ada yang mampu mendengarnya.
Image
Sering saya merasakan berjarak itu jauh lebih baik. Dalam berjarak itu akan terhimpun corak rindu yang paling cantik.  Saya rasakan memasuki negeri sepi yang lengkap. Banyaknya nanti masa saya membaca al-Qur'an dan puisi sama ada di ruang berlepas,  saat bersandar ketika pesawat membelah awan atau di lobi hotel tempat saya menginap. Ternyata dalam berjarak, saya lebih dimengerti dan  disantuni. Saya seperti dapat rasakan kaki saya sangat berat mahu menolak troli bagasi menuju ruang ketibaan nanti dan lajur rutinitas kembali.
Image
Benar, kurang lebih 40 tahun saya tidak ke pawagam. Dia memujuk dan menyeret saya bertemu dengan Sarwono dan Pingkan. Hingga memperkenalkan saya tentang  mereka bahawa kasih sayang itu beriman pada senyap. Kasih sayang itu mengungguli segalanya menembus apa yang tidak bisa dipahami oleh pengertian  pinggir jalan. Kasih sayang juga ternyata sebuah ruang kedap suara yang merayakan  senyap sebagai  satu-satunya harap. 

Atau bagaimana nanti kasih sayang menyatukan sukma yang pernah hidup di ruang rahasia dalam lajur penciptaan, akhirnya membawa kepada pertemuan baru ini. Kasih sayang yang saya jalani di perbukitan Banyumanik.
Image
Masih di ranah asing dan saya seperti melihat kali ini dia masih datang untuk melipat jarak. Atau ini kesan intertekstual saya mula menikmati si Pingkan Melipat Jarak. Daya khayal saya yang selalu liar menemukan pasangan kawan camar yang sudah terbang terlalu jauh ke samudra dan merasa sangat letih tetapi tidak melihat  apa pun yang bisa dihinggapinya...walau demi dua ekor camar sangat letih yang terus-menerus terbang agar tetap bisa memelihara kasih  sayang. Walau hanya sejenak. 
Image
Mungkin ini satu antara lipatan pengakuan aneh saya: saat saya berjarak daripada rutinitas, seperti ada sosok yang mahu sekali bersahabat. Dia akan menghampiri dan mahu menyapa dengan salam dan dengannya saya rasa begitu terhormat. Ya, dia seperti mahu menemani saya yang sendiri. Seperti baris Rumi, malam hari kuminta rembulan datang..kututup pintu bahasa dan kubuka jendela cinta. Rembulan tak masuk lewat pintu. Hanya jendela. Benar, saat saya terbang lagi menuju ranah asing seperti kali ini, saya akan selalu temukan dia. Ya benar saya rasakan dia dekat dan seperti akhirnya nanti hinggap nyaman di dahan sukma. Aneh, dia hanya saya jumpa dalam berpergian, dalam lapis sunyi saat saya mencari-cari.
Image
AM sudah sering berbohong. Dan ia sangat memerihkan saya yang mendengarnya. Dada saya akan sangat sakit dan membawa saya untuk berdiam lama. Tidak mahu ada sebarang percakapan yang hanya akan mengundang geram dan sedih saya lagi. Seperti orang yang mahu berpergian, biar kami berjarak. Saya percaya dalam berjarak itu, banyak nanti yang kami lebih mengerti dan mungkin lebih menghargai. Rasanya monolog ini sangat klise. Ia  melantun-lantun. Ia seperti bola yang dipukul ke dinding, mengembalikan talun yang serupa. Atau mahu saja saya berdiri di puncak perbukitan ini, ya saya bayangkan ia adalah wilayah Miqdad. Dan ia akan segera memujuk hati tua saya.
Image
Ini titipan sempena kembara saya bulan lepas ke ranah gelombang besar, gelombang getir. Antara lain ia tentang hasrat yang masih berjarak, yang entah bila dapat saya rangkul. Ia juga tentang kecintaan saya terhadap anak yatim yang dianjur al-Qur'an, yang menjadi kecintaan Rasulullah. Baru sekarang saya berani ke pantai gelombang besar. Kerana apa? Kerana mengenang indahnya menyertai anak-anak yang kehilangan. Terima kasih kepada Sdr Nazmi Yaakub, editor BH yang menerima cerpen ini. Dan saya senang sekali dengan misteri pada ilustrasi cerpen kali ini. 

Sementara ini merupakan sambungan rencana saya di MM yang disiarkan dua minggu lalu.  Ya, judulnya juga sudah bertukar. Saya lebih senang jika dikekalkan judul, yang sebenarnya diubahsuai daripada petikan dalam tulisan saya ... guru yang membina keyakinan dan kepercayaan. Terima kasih kepada editornya, Sdr Sahidan Jaafar. Tahniah atas graduasi Sarjana Sains Politiknya besok. Ya saya akan menyertai acara bersejarah itu di Dewan Tun A…
Image
Minggu yang padat dan pendek, namun perjalanan yang melelahkan sekali, apalagi apabila dirasakan sangat sendiri. Segala-galanya harus siap sebelum bermula November. Dan November sendiri malah menjelang bulan hujung tahun sudah banyak yang mengisi. Subhanallah. Al-Qur'an yang saya cinta sering memujuk gundah yang selalu datang. Ya, lewat dua baris ad-Dhuha ini: Dia mendapatimu bingung lalu Dia memberikan petunjuk. Dia mendapatimu kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Allah ya Allah. Kepada siapa lagi saya mahu sandarkan segala gundah dan payah ini selain Dia ...
Image
Entah bila titik hujung saya. Beberapa hari ini banyak khabar kepulangan yang disampaikan. Beberapa sahabat kehilangan ayah. UKM, tempat saya bertugas juga kehilangan tokoh yang sangat banyak jasanya, Prof Datuk Zainal Abidin Abdul Wahid. Saya tidak sempat bertemu beliau sejak zaman mahasiwa lagi, namun nama dan budinya sangat harum. Begitulah kebaikan yang akan dikenang lama. Sering juga tanpa mengenalinya sama sekali, namun kita sangat rasa terdorong. Sedang saya, si debu ini entah apa rupa nasibnya. Gundah atau gembira, semuanya di dalam gua sendiri. Dan ya, entah bila pula titik hujung saya. Foto ini daripada sahabat pendakian saya di Paekakariki Escarpment Track. Sering membawa saya ke titik hujungnya.
Image
Banyak yang tak terucap. Banyak juga yang tak tertemukan dalam balam saat matahari kian meneduh. Saya baru menyudahkan cerita pendek yang saya bawakan daripada kembara yang baru lalu. Seperti saya yang tidak dapat bertemu dengan Miqdad yang dirindu sekian masa. Walau sudah tiba di ranah yang dituju, sedang dia masih menjauh.
Image
Kampus kembali sunyi. Sudah masuk minggu keenam kuliah dan mahasiswa cuti awal pertengahan semester ini untuk meraikan Divali besok. Sementara kami yang masih tinggal, menyelesaikan kerja yang banyak tertangguh sebelum berhujungnya Oktober. Nanti November akan penuh lagi dengan acara di dalam dan luar. Sekejap kemudian akan sekali lagi menuju penutup 2017. Allah ya Allah. Sekali lagi saya tersandar dan mengimbas akan cepatnya masa yang hilang dan terbuang. Rasa ditinggalkan terus seperti selalu, saya akan ditemani keharuan dan mahu rasanya membawa sekali lagi kaki tua saya ke penjuru gua. Introspeksi lagi dan lagi. Foto ini sering muncul sebagai penyelamat layar (screen saver) di komputer pejabat. Ia juga menjadi penyelamat, teduhan seperti pohon sukma yang tidak pernah terlupakan walau berjarak sering.
Image
Pengalaman menulis di akhbar dan majalah, sering menemukan saya dengan penyunting yang banyak mengandai-andai. Ejaan asal yang disangka silap ditulis, diubah. Akhirnya makna sebenar penulis bertukar. Ia berlaku beberapa kali dalam penulisan saya, khusus dalam penggunaan kata langka. Terkini, hari ini, tulisan pengalaman saya di HSKU, asalnya berbunyi HSKU: Guru yang Menuntun, diubah kepada HSKU: Guru yang Menonton. Saya kecewa pastinya kerana ia judul besar dan ia adalah sumbangsih saya yang istimewa untuk HSKU dan Utusan/Mingguan Malaysia. Saya menulis kepada editornya, Sdr Sahidan Jaafar agar ada kotak maklumat ralat minggu depan (rencana ini bersambung minggu depan) berkaitan judul besar itu. Menuntun maknanya memimpin, membimbing, mengasuh; itu erti yang sangat luhur jauh datangnya dari kalbu saya sewaktu mengetik rencana berkenaan. Saya orang kecil yang menulis, mungkin sahaja rencana ini tidak ada makna yang besar kepada banyak pihak. Bezanya,  saya adalah guru yang menulis...
Image
Bercakap tentang imaginasi dalam kerja kreatif lewat kuliah kelmarin, saya membawa mahasiswa terbang nun jauh ke bulan. Memasuki sempadan garis semu, saya tidak pasti sama ada mereka benar-benar menikmati penerbangan jauh kami. Saya bertanya, apa yang mereka temui di daerah bundar itu. Keasingan, kesendirian, pengharapan atau bulan itu hampir tidak ada apa-apa makna. Bulan hanya yang terkait dengan langit malam. Bulan hanya jalur cerita dan mimpi di jendela usia waktu kecil. Dan saya seperti selalu, sering dibiarkan di hadapan dewan kuliah menjalani plot bikinan sendiri. Tanpa siapa mahu tahu garis, keluk dan beluk atau malah  rupa nasib yang mungkin saya temukan. Ternyata saya seorang saja yang mahu ke sana.
Image
Siapa agaknya yang dapat menghentikan ribut taufan dalam dada apabila janji dimungkir atau dusta yang cuba disembunyi. Siapa agaknya yang dapat bertahan daripada menyelinap masuk ke penjuru gua untuk berdiam lama saat nyata jujur yang tersamar. Begitulah kita sering mahu mencari jalan tulus sedangkan tidak semua yang ditemukan adalah baris yang lurus. Kecuali satu jalan yang datang dengan seluruh lajur pujukan. Ia menghentikan taufan. Ia membikin surutnya curiga. Ia mereda guruh gelisah. Ya, dengan jalan berasa cukup. Berikhlas hati.
Image
Melihat ombak dan getar yang datang, tak akan pernah boleh ditebak makna atau rusuh yang diseret panjang. Meskipun muara ini sering dikunjung dan menjadi negeri sukma, ternyata ia masih wilayah yang canggung. Bagaimana nanti ia menjadi daerah yang menjarak dan akhirnya di situlah menjadi titik paling hujung.
Image
Berbahagia sekali hari ini untuk saya berbahagi kuliah tentang tsunami. Dari paparan kisah benar, novel dan filem Hafalan ShalatDelisa Tere Liye dan puisi Lidah Tsunami A. Samad Said. Bagaimana saya menyaran mahasiswa untuk menyusun plot cerita. Mana takdir yang harus membuka tabir atau peleraiannya adalah sesuatu yang tidak terjangkakan. Melihat mata anak-anak yang ditinggalkan, ya anak-anak yang kehilangan, sering juga saya melihat bersit berani dan tabah. Persis baris Pak Samad bahawa tsunami itu lidah ombak memang tak terduga, begitulah hati yang sering sukar ditebak. Kilas kata yang payah dibaca. Atau juga hasrat yang hanya Dia tahu tulus dustanya. Melihat gelombang seteru dengan pusaran yang mendera, saya membayang dia yang ternyata jauh walau selalu ada.
Image
Foto ini saya rakam dari muzium sempena kembara lalu. Saya melihatnya sebagai pejuang. Meredah gelombang. Menongkah cuaca. Berdepan dengan bongkah takdir yang  tidak diketahui ukurannya sama sekali. Banyak antara kita yang sedang berjuang. AM juga. Ujian besar UPKKnya minggu ini. Malam tadi AM mengimami solah Isya' dan hajat kami. Subhanallah. al Waqia yang lancar, menyeret saya ke ruang kesyukuran. Benar, tidak ada yang lebih mahal selain pejuang yang soleh lagi musleh. Minggu ini saya mohon ia menjadi pemula yang baik buat AM, seperti bacaan doanya yang kami aminkan. Cintanya pada al-Quran dan solah. Cintanya buat Allah dan Rasulullah.
Image
Berada jauh dalam tebal awan, saya meneruskan introspeksi yang dikumpulkan beberapa hari ini. Masih debunya saya dalam soal perjuangan. Masih naifnya saya dalam narasi orang yang berjiwa besar. Ternyata saya dengan langkah lelah dan tangan kecil, mahu berbuat banyak perkara. Permulaan surah az Zumar dini ini sangat memujuk, lakukannya dengan tulus, dengan ikhlas, hanya untuk-Nya. Sejak awal saya sangat sedar kekuatan ini datang dari dia. Banyak dalam al-Qur'an menyebut tentang dia. Dan dengannya saya berikhlas hati. Ya, dia yang jauh.
Image
Menuju ranah asing sekian kali menyeret sama pelbagai renungan.  Seperti tulis SDD dalam Sonet 3 Kolamnya, jangan lupa, di sini ada yang gelisah. 
Image
Saya senang  berada di rusuk jendela kamar AM. Mudah sekali melihat apa yang dibentangkan di langit. Pernah bulan terhias di situ. Atau seperti waktu dini tadi, terletak bintang yang mengerdip dan membuat saya asyik sekali. Mahu menyertai tiap kali kerlipannya sehingga saya memberitahu mahasiswa dalam kuliah siang tadi, ia merupakan tanda mata, hadiah yang indah sekali buat saya. Malangnya mata mahasiswa saya kosong. Saya mahu saja berbahagi tiap rasa yang terucap di dasar sukma saat menatap si bintang sebutir itu. Saya berasa malu, sebenarnya, untuk berdiri lama merenung dia. Saya sebak dalam syukur, kerana hadirnya. Saya jadi terus menangis kerana siapalah saya yang mahu diberi-beri semua ini. Namun saya meragui adakah mahasiswa saya mengerti atau mereka selalu lupa baris apa yang merupakan nota kuliah yang harus disimpan atau membiarkan saja gurunya ini terus bercerita. Atau saya sedang melayan kedunguan sendiri tentang malu, sebak, syukur dan keharuan saya. Ya, masih tentang bint…
Image
Setiap kita pasti mempunyai keanehan yang tersendiri. Benar? Saya pernah ditertawakan teman-teman apabila mengeluarkan kantung merah sudu dan garfu yang dibawa dari rumah ketika makan di luar. Ya, saya mengelakkan daripada menggunakan sudu dan garfu yang disediakan  di kedai makan. Saya juga lebih selesa membawa air panas sendiri dalam kelalang. Ia setelah melalui beberapa kali pengalaman saya akan mudah mendapat sakit tekak dan demam apabila minum di luar. Pernah juga suatu ketika saya tidak akan menggunakan cawan yang sudah pernah digunakan oleh orang lain. Aneh? Mungkin tidak, atau ia lebih dilihat sebagai mengada-ngada. Dahsyatnya saya.
Image
Bagaimana hujung minggu Sdr yang panjang? Selain membaca dan menulis, dapur saya wangi dengan harum biskut Belgium. Seperti dalam mimpi cerpen lama saya, "Dan Coklat Mengalir dari Ruang Buncah", saya meneruskan dengan dulang kek coklat pula. Nikmat apabila melihat biskut yang gurih disejukkan di atas redai, kemudian mengisi ke dalam beberapa balang comel yang diikat reben. Kepingan kek yang dibahagi-bahagikan, menyeret saya ke ruang Rumah Coklat: “Bukankah kehidupan seperti sekotak penuh coklat dan kita tidak tahu coklat yang bagaimana bentuknya dan jenis apa yang kita akan terima.” Dia mengulang pula dialog Forrest yang banyak berlari dalam hidup. Atau sayakah itu yang mahu sahaja berlari apabila setiap saat bertemu dengan manusia yang menyarung pelbagai topeng. Dan sarung itu boleh ditukar-tukar. Sarung muka yang sentiasa ada di kantung baju. Ia mudah disimpan, diganti dan dikenakan dalam keadaan-keadaan tertentu. Saya mahu berlari dan berlari daripada topeng-topeng itu k…
Image
Hampir setiap semester kuliah saya bermula yang paling awal iaitu jam 8 dan ia mengambil masa selama dua jam. Saya berusaha sedaya mungkin untuk berdiri tepat waktu di hadapan kelas, meraikan mahasiswa, meraikan ilmu. Namun antara kekangannya adalah mahasiswa saya yang sering lewat kerana faktor bas kampus atau mereka sendiri yang terlewat. Pagi ini ada mahasiswa yang menyerah diri mengakui tidak hadir kuliah kerana terlewat bangun, hampir jam kuliah berakhir. Subhanallah. Soalan pertama saya Sdr sudah solah Fajr? Jam berapa Sdr masuk tidur malam tadi? Matanya yang mula penuh air, saya singgah antara cerita dengan separuh menasihati. Cerita saya tentang AM yang sering saya beritahu, meninggalkan solah bermakna kita menempah nama di pintu neraka. Antara ketakutan akan azab api yang menjulang,  juga harus selalu direnung apa rahasia solah yang difardhukan. Mudah mudahan ia pesan yang mengasuhnya menuju tahun baru esok. Mudah-mudahan azamnya  bangun  awal untuk solah dan bukan semata un…
Image
Saya menemui tafsiran ini sewaktu bertadabbur tentang kisah Ibu Nabi Musa yang kebingungan saat menghanyutkan anaknya di Sungai Nil. Allah memeliharanya daripada kegelisahan. Ternyata Ibu Musa  sudah dapat mengendalikan dirinya. Sukma yang sebegini jadi tidak lekas menggelora oleh sebarang rasa duka atau suka. Itu petanda dia sudah dapat memelihara imannya. Dia sudah percaya bahawa segala yang terjadi selalu ada hubungan dengan  kehendak Allah. Maka sukma orang beriman tidak  resah gelisah akibat susah atau tidak pula  gembira beriya-iya ketika ada yang menyenangkan hatinya. Saya ternyata jauh daripada sukma yang begitu. Jauh sekali.
Image
Impian saya adalah untuk tadabbur al-Qur'an dari sumber yang lenggok bahasanya saya senangi dan serasi. Maka dengan seribu syukur saya diperkenalkan dengan Tafsir al-Azhar karangan Hamka. Ikrar tafsir ini, diperkaya dengan pendekatan sejarah, sosiologi, tasawuf, ilmu kalam, sastera dan psikologi, saya kian menikmatinya sepanjang meneruskan surah an-Naml. Antaranya kisah Nabi Sulaiman dengan masyarakat burung, Negeri Saba' dan Ratu Balqis. Saya singgah pada doa Nabi Sulaiman Dawud, Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kedua ibu bapaku dan untuk mengerjakan amal soleh yang Engkau redhai. Dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu dalam golongan hamba-hamba-Mu yang soleh. Aamiin.






Image
Negara kelahiran saya melalui sejarah besarnya hari ini apabila Halimah Yaacob secara rasmi merupakan Presiden baru Singapura. Beberapa perihal menarik terkait dengan sejarah ini,  beliau adalah Presiden ke-8 ~ Presiden wanita pertama ~ Presiden Melayu kedua selepas Yusof Ishak ~ Menetap di flat HDB Yishun dan merupakan ahli Parlimen GRC Jurong. Syabas Puan Presiden.
Image
Sdr tentu banyak melalui kisah hujan. Dan ia kemudian menyeret Sdr ke capahan ruang sendiri dan sangat rahsia. Saya pernah kehujanan pada sebuah malam Ramadhan. Kami berjanji untuk berjumpa di ruang iftar. Ya, saya menunggu dan menanti hingga azan berbunyi dan semua pelanggan di rumah makan itu mula menikmati hidangan yang dipesan. Saya masih menunggu dan menanti di penjuru itu dengan segelas air suam ihsan dari pemilik kedai. Ternyata dia terus sepi sedang saya yang masih menanti. Perasaan dungu dan malu hingga saat ini masih saya dapat rasakan. Kemudian saya membelah dingin malam, hujan yang bersatu dengan hawa dalam gerabak mrt (ya, kenangan teman yang mungkir dan tidak peduli akan janji ini berlaku di Temasek), membawa langkah sebak saya pulang ke apartment. Anehnya saya tidak menangis seperti selalu apabila ditinggalkan. Namun hingga sedekad ia berlalu, babak kehujanan, tidak berpayungan, apalagi dengan tiada kepedulian pada janji dan kata maaf, semuanya berhimpun lama. Sesekali…
Image
Masih dengan cerita korban. Semasa meladeni Mak yang demam, kami berjanji untuk mula menabung bagi korban tahun depan. Satu hari RM2.00 selama setahun dari sekarang. Bunyinya kami seperti anak kecil yang seronok mahu mengumpul duit bagi mendapatkan sesuatu yang diimpikan. Subhanallah, mata Mak yang kelabu jernih seperti bintang yang cantik cuba untuk menyatakan sesuatu. Saya tahu saat itulah kebahagiaan menyertai sukma kami. Dan saya mahu menangis sebenarnya, separuh mengelus garis-garis halus di tangan Mak dan sebahagiannya lagi berdoa sungguh-sungguh tabungan kami penuh menuju Idul Adha tahun 1439, insya-Allah.
Image
Salam Idul Adha. Kita masih dalam untaian takbir. Dapat pulang bertemu Mak kali ini rupa-rupanya kian menghangatkan keakraban kami. Itu yang paling saya syukuri walau dalam risau panas demam Emak yang lambat kebahnya. Alhamdulillah syukur, jalan takdir yang indah, dalam rutinitas tadabbur, saya singgah di surah al Anbiya: 69: Wahai api. Jadilah kamu dingin dan penyelamat bagi Ibrahim. Sebelumnya saya bacakan al Fatihah (40 atau 10 kali atau sekali), surah al Ikhlas, surah an-Nas dan surah al-Falaq dalam air untuk Mak. Saya memohon doa penyembuhan. Dalam pengharapan yang panjang saya tahu doanya yang turut mengiringi buat Mak, sangat ikhlas, sangat tulus. Alhamdulillah syukur, suhu Mak turun senja hari kedua. Dan saya selalu yakini Allah Maha Mendengar dan Menyembuhkan Mak. Allahu akbar.
Image
Salam Arafah. Terus berdoa dalam berjarak.
Image
Lama dahulu sewaktu  di Temasek, saya mengaji al-Qur'an di surau kampung kecil kami di penjuru Bukit Timah. Masih ingat, saya mempunyai seorang dua sahabat anak jiran yang saling menemani ke surau usai Maghrib, walau ia hanya sepelaung jauh. Walau dekat kami masih beriringan. Dalam beberapa cerpen mengenangnya, saya juga pernah menulis sekembali dari kelas mengaji, pada musim kuih bulan dan tanglung tiba, sahabat Tionghua kami akan sedia menunggu. Bahagia dengan cahaya tanglung dalam jelaga malam, menebar riang, kami menjamah manisnya kuih bulan dan persahabatan. Begitulah antara pecahan ingatan dan kenangan. Alangkah sepi sebenarnya tanpa sahabat mengaji, sahabat al-Qur'an, mahupun sahabat solah. Biarlah saya kehilangan seribu sahabat lain, asal saja dia masih ada, walau sebenarnya jauh daripada nyata. Ya, saya rindukan sahabat al-Qur'an dan sahabat solah saya.
Image
Kerap saya mengulang baris Rumi, dalam kesenyapan kita akan mendengar dengan lebih larut. Enak juga berdiam. Seperti melangkah masuk ke ruang tengah kutubkhanah, kita bertembung aksara yang membariskan maksud akan ingatan. Atau saat kita menyertai galeri lukisan dan arca, kita berpapasan dengan keping-keping kenangan. Benar, sunyi sering membentangkan keluasan agar kita lebih menjadi saksama. Saya yakini juga ia menawarkan pengertian. Dan ia sama sekali tidak bererti adanya jarak.