Posts

Showing posts from November, 2017
Image
Saya lupa besok cuti umum. Dan besok adalah hari besar meraikan Rasulullah. Saya sangat ingat kita  sedang menjalani bulan kelahiran Rasulullah, hanya tidak menyangka masa dan hari begini cepat berganti. Penulis buku Seindah Sabda Rasulullah, menitipnya awal untuk persediaan membaca dalam menikmati rasa mencintai Rasulullah. Terima kasih Sdr Muhd Nasruddin Dasuki, senior dan guru dalam penulisan dan juga merupakan editor pertama yang menyiarkan karya saya sewaktu saya berusia 15 tahun.
Image
Terima kasih Sdr Siti Haliza Yusop atas perhatiannya. 




Image
Sangat benar, dua nikmat yang sering terlupakan adalah kesihatan dan waktu lapang. Ia dibangkitkan dalam kuliah dhuha kami. Jarang sekali kita mahu mengangkat tangan untuk mensyukuri sihatnya kita ketika itu. Mungkin sahaja ia berbunyi aneh. Namun, alangkah manisnya nikmat berterima kasih saat kita memiliki. Allah ya Allah. Tanpa Allah perlu menguji kita dengan sakit, kita masih terus mahu menyitir syukur. Perihal yang sama, saat kita dalam batas masa yang tidak ditekan dengan deadlines, kita terus menadah tangan dengan berbisik kepada Allah, ya Allah terima kasih atas masa yang diberikan ini kerana dengannya saya dapat berbuat banyak kebaikan. Aneh, bukan? Sebaliknya, lazim kita sangat-sangat memerlukan Allah melapangkan masa ketika kita dihimpit beban kerja yang tidak sudah-sudah. Alangkah kita selalu menjadi yang bersyukur, tanpa garis batas. Ya, mencintai-Nya tanpa syarat.  Allah ya Allah.
Image
Mahasiswa kami meraikan buku baru SM Zakir, 20 Cerita tentang Tuhan. Sepanjang semester ini kami menekuni 20 cerpen yang terhimpun. Membahaskan struktur. Muatan yang dibawa merentasi banyak jalan mengenal banyak perihal antaranya dari sifat Allah, sadaqah, ketulusan dan perempuan (ya perempuan bersayap). Zakir merupakan sahabat lama dan sering juga menjadi mentor dalam penulisan saya. Kepada mahasiswa saya katakan, belajar dari penulisan yang baik. Salah satunya daripada adalah buku dan pengarang ini.
Image
Saya sering bertembung dengan pertelingkahan dalam memilih antara mahu bersederhana, dengan protokol; kemudian akan segera terkurung dalam pagar formaliti. Dalam wilayah pekerjaan saya, itu antara yang melemaskan dan malangnya saya selalu tewas. Mendengar kisah teman-teman di Eropah atau negara sebelah sana, tantangan ini hampir tidak perlu mereka depani. Tuntutannya hanya terhadap hasil yang bermanfaat dan menggembirakan semua. Saya seperti mahu memasuki satu lorong rahsia dan menyelinap di dalamnya kemudian menemukan satu wilayah baru yang setiap satunya dalam bersederhana. Tidak ada salutasi. Tidak ada birokrasi. Tidak ada kekalutan dengan setiap satunya harus rasmi.
Image
Dalam menjalani rutinitas, banyak perasaan sendiri yang sukar dilakar, sehingga ia memenuhkan seluruh inci dada. Menjadikannya ia satu wilayah buncah. Sering tidak jelas apa yang sedang dijalani. Suara sendiri juga sulit menyitirnya. Dan ia hampir tidak terdengarkan. Kadangkala ia menjadi cawan bancuhan warna yang tidak jelas kontur apalagi struktur makna. Semakin mahu diurai, nah, kian ia menjadi bauran yang kusut, ruwet malah. Maka tindakan yang paling bijak  adalah membawa diri ke ruang yang dapat mengamankan setiap keliru. Baris dan helai surah dari langit yang akan selalu memujuk dan selalu jujur. Ia melunakkan dan menawarkan rasa aman seperti menerima rinai di hujung jendela kamar pada detik dini.
Image
Saat mengetik ini, hujan musim yang mengguyur tanah, mulanya sangat berat kemudian saling bertukar sikap; lunak berselang hiba. Langit yang sudah kelabu, membawa sekian kali dia  menjarak walau dekat. Masa dan ruang yang merupakan antara teori kuliah kaji alam semasa mahasiswa, hampir tidak membawakan apa-apa erti lagi saat begini. Masa dan ruang yang sudah digenapkan dengan sepi. Sepertinya juga rutinitas dan formaliti melengkapkan segala menjadi sendiri. Sehinggakan Sar menyitir kepada dirinya, berusaha sebaik-baik untuk melupakan, tidak untuk melepaskan. Begitu rutinitas dan formaliti meledakkan kuasanya.
Image
Antara rasa bersyukur dengan ketakutan sebenarnya, apabila saya didatangi banyak sekali peringatan. Subhanallah. Dan saya tidak pernah meminta (atau saya meminta di bawah sedar) untuk sering diperingatkan. Subhanallah ia datang dari setiap penjuru mata angin yang ada. Semuanya datang mengetuk pintu kesedaran tanpa saya sangka sama sekali. Ya Allah, bagaimana saya didatangkan sahabat yang  menuntun saya setiap hari  dengan postings untuk lebih dekat dengan kebaikan. Bagaimana saya mengenali sosok yang mencintai anak yatim dalam seluruh hidupnya. Bagaimana saya bertemu dengan sahabat pesawat yang mengasuh saya untuk berikhlas hati. Bagaimana dengan tiba-tiba yayi yang muncul untuk selalu mengingatkan saya tentang ilmu solah. Ada juga yang menitip risalah tentang mencintai Rasulullah. Allah ya Allah. Setiap waktu dini saya disapa sahabat al-Qur'an yang seperti bunyi penggera, di mana tempat berjeda bacaan surah kami. Apa lagi yang saya tunggu untuk menjadi hamba Allah yang lebih bai…
Image
Saya demam sekembali daripada ranah asing. Demam seperti selalu setelah lelah atau mungkin sahaja apabila memaksa diri untuk segera menyertai jalan rutinitas kembali. Ringkih atau menjadi cengeng dengan bagaimana saya diperlakukan oleh tarikh-tarikh akhir lagi yang menunggu giliran di meja kerja. Atau apa seperti yang dibentangkan buat Pingkan saat Sarwono ditempatkan di rumah sakit di penghujung halaman Hujan Bulan Juni, demikianlah Surat Takdir pun dibaca berulang kali tanpa ada yang mampu mendengarnya.
Image
Sering saya merasakan berjarak itu jauh lebih baik. Dalam berjarak itu akan terhimpun corak rindu yang paling cantik.  Saya rasakan memasuki negeri sepi yang lengkap. Banyaknya nanti masa saya membaca al-Qur'an dan puisi sama ada di ruang berlepas,  saat bersandar ketika pesawat membelah awan atau di lobi hotel tempat saya menginap. Ternyata dalam berjarak, saya lebih dimengerti dan  disantuni. Saya seperti dapat rasakan kaki saya sangat berat mahu menolak troli bagasi menuju ruang ketibaan nanti dan lajur rutinitas kembali.
Image
Benar, kurang lebih 40 tahun saya tidak ke pawagam. Dia memujuk dan menyeret saya bertemu dengan Sarwono dan Pingkan. Hingga memperkenalkan saya tentang  mereka bahawa kasih sayang itu beriman pada senyap. Kasih sayang itu mengungguli segalanya menembus apa yang tidak bisa dipahami oleh pengertian  pinggir jalan. Kasih sayang juga ternyata sebuah ruang kedap suara yang merayakan  senyap sebagai  satu-satunya harap. 

Atau bagaimana nanti kasih sayang menyatukan sukma yang pernah hidup di ruang rahasia dalam lajur penciptaan, akhirnya membawa kepada pertemuan baru ini. Kasih sayang yang saya jalani di perbukitan Banyumanik.
Image
Masih di ranah asing dan saya seperti melihat kali ini dia masih datang untuk melipat jarak. Atau ini kesan intertekstual saya mula menikmati si Pingkan Melipat Jarak. Daya khayal saya yang selalu liar menemukan pasangan kawan camar yang sudah terbang terlalu jauh ke samudra dan merasa sangat letih tetapi tidak melihat  apa pun yang bisa dihinggapinya...walau demi dua ekor camar sangat letih yang terus-menerus terbang agar tetap bisa memelihara kasih  sayang. Walau hanya sejenak. 
Image
Mungkin ini satu antara lipatan pengakuan aneh saya: saat saya berjarak daripada rutinitas, seperti ada sosok yang mahu sekali bersahabat. Dia akan menghampiri dan mahu menyapa dengan salam dan dengannya saya rasa begitu terhormat. Ya, dia seperti mahu menemani saya yang sendiri. Seperti baris Rumi, malam hari kuminta rembulan datang..kututup pintu bahasa dan kubuka jendela cinta. Rembulan tak masuk lewat pintu. Hanya jendela. Benar, saat saya terbang lagi menuju ranah asing seperti kali ini, saya akan selalu temukan dia. Ya benar saya rasakan dia dekat dan seperti akhirnya nanti hinggap nyaman di dahan sukma. Aneh, dia hanya saya jumpa dalam berpergian, dalam lapis sunyi saat saya mencari-cari.
Image
AM sudah sering berbohong. Dan ia sangat memerihkan saya yang mendengarnya. Dada saya akan sangat sakit dan membawa saya untuk berdiam lama. Tidak mahu ada sebarang percakapan yang hanya akan mengundang geram dan sedih saya lagi. Seperti orang yang mahu berpergian, biar kami berjarak. Saya percaya dalam berjarak itu, banyak nanti yang kami lebih mengerti dan mungkin lebih menghargai. Rasanya monolog ini sangat klise. Ia  melantun-lantun. Ia seperti bola yang dipukul ke dinding, mengembalikan talun yang serupa. Atau mahu saja saya berdiri di puncak perbukitan ini, ya saya bayangkan ia adalah wilayah Miqdad. Dan ia akan segera memujuk hati tua saya.