Posts

Image
Kebaktian itu adalah menara ini. Ia keteguhan dan keyakinan juga.  Saya menyelinap lagi dan menemukan dia dalam jarak dan belantara kepercayaan ini.
Image
Sendiri itu mungkin sepi. Sendiri itu mungkin dicari. Atau sendiri itu adalah latihan alami.  Sendiri itu ada magisnya.
Image
Musim bunga di taman kecil kami. Dari kemuning, kemboja dan kenanga. Hanya kesidang yang terus melilit tiang dengan daun dan sulur yang subur. Kebetulan semuanya bunga "k".  Sangat kena meneduhkan hati orang tua.

Image
Saya jarang menulis kritikan atau ulasan puisi. Namun  Kemerdekaan Itu, menawarkan ruang yang tersendiri. Terima kasih SDD. Terima kasih Pendaftar UKM yang memberi sanjungannya terhadap kesusasteraan di kampus kami.
Image
Bunga sering mengirim makna cinta. Apalagi kalau mawar.  Bunga juga tanda terima kasih. Apalagi sebagai mewakili kemaafan. Kelmarin si putih ini menyiram wangi taman kecil di hadapan rumah. Ia sangat merangkul saat saya pulang dengan memikul lelah dan perih menjelang azan dari surau.  Dulu AM sesekali memetiknya dan meletak di meja tulis saya. Sekarang saya sudah jarang menerima bunga. Apalagi untuk memujuk saya yang sudah tua dan selayaknya tidak lagi dititip apa jenis bunga sekalipun.
Image
Kami kian berjarak. Saya sedar kabut tipis antaranya kian menjadi tabir hijab kenangan. Segala yang ada menjadi perca-perca delusi yang sangat remang. Saya akhirnya sendiri dan pasti merasakan ada yang hilang ketika saya menoleh ke luar tingkap kecil pesawat senja itu. Jalan berkeluk, tikungan di tanah beralun, angin yang ternyata membawa berita atau hawa yang bertukar nada. Semuanya berhimpun lama hingga kesedihan saya tumbuh menjadi gunung atau mungkin hiba saya merayap menjadi hutan belantara yang panjang.
Image
Saya fikir rindu kami menggenap saat saya melebarkan bukaan pintunya. Kami seperti mahu saling merangkul setelah dia menghilang tahun. Dan saya tahu betapa hangat nanti saya jadinya antara dingin angin gunung dan perbukitan apabila berada dalam dadanya. Sekali lagi, saya fikir rindu kami menggenap saat saya menuruni tangga kecil menghala ke jalan pulang. Ya, benar ternyata ia belum terpenuh. Rindu kami masih tumbuh antara dahan, daun, kabut dan keliru yang mengepung.
Image
Saya terbang lagi. Bagus sekali halanya ke perbukitan dingin. Nyaman dan memujuk. Banyak yang perlu diamankan sebelum kuliah dan rutinitas yang lebih mencengkam bermula pertengahan bulan nanti. Sebelum lebih banyak yang membuat saya menangis lagi. Sampai jumpa.
Image
Minggu ini saya seperti diberikan ilham. Melihat ragam di jalanraya dan karenah manusia, bagaimana saya mendepani mereka. Misalnya, melihat motorsikal yang memberi lampu isyarat ke kiri tapi  tiba-tiba membeluk ke kanan. Pasti saya geram dan mahu marah. Tapi dengan ilham, saya jadi ketawa sendiri. Aduhai lucunya! Atau geram dihubungi ketua setengah jam sebelum harus mewakilinya ke mesyuarat, saya berseloroh dan ketawa. Seraya memberitahu ketua saya mahu berdandan dahulu. Atau bagaimana saya dengan pihak yang asyik lupa setelah diperingat berkali-kali. Saya akan ketawa sendiri. Lucu sekali, bagaimana dia masih lupa. Ya, begitu cara menangani tekanan. Ketawa sendiri. Atau sebenarnya masih ada yang belum boleh saya ketawa sendiri, saat ada gurauan yang perih dan meremukkan. Canda yang tidak pernah sama sekali saya terfikirkan akan berbuat sedemikian. Ya, mungkin saya belum boleh ketawa sendiri untuk merawat hati dalam banyak hal lagi. Sebaliknya dengan kelucuan itu, saya berasa saya ini…
Image
Ia tempat menitip banyak ucapan. Selamat jalan. Selamat tinggal. Selamat berjumpa kembali. Ia lingkungan berhimpunnya  setiap gelisah, perih, airmata dan segala yang menjadikan dada penuh. Maka ada yang menamakannya labuhan sukma. Singgahnya setiap yang mengguncang dada.