Posts

Showing posts from July, 2019
Image
Sesekali saya menoleh. Membaca kembali apa yang pernah saya lalui. Sebelum menjadi tua seperti sekarang, saya sering berpaling dengan tanda baca, alangkah. Alangkah saya...Alangkah jika... Bujukan kemudiannya datang bahawa, Allah itu Maha Mengatur. Dan tataan-Nya sangat rapi dan menggenap dengan keperluan kita. Bukankah apa yang dimaksudkan itu adalah kecukupan. Kelebihan, kekayaan, kedudukan; mungkin sahaja bukan merupakan keperluan. Kita berasa cukup dengan apa yang Allah anugerahkan. Itulah rezeki. 

Image
Saya melanjutkan bacaan. Kali ini saya menemukan keindahan akan segala sesuatu yang diciptakan Allah, yang bayang-bayangnya berbolak balik ke kanan dan ke kiri, dalam keadaan bersujud kepada Allah, sedang mereka berendah hati (an Nahl: 48). Saya menyelak tafsir Ibn Kathir. Begitu semua makhluk yang  mempunyai bayang bersujud dengan bayangannya kepada Allah; seperti gunung dan bayangnya. Dan bagaimana pula ombak, adalah sujudnya laut. Subhanallah.
Image
Dalam sendiri dan berjarak, langit dini membawanya datang. Di penjuru paling cantik dan  menggenap, saat saya tidak mencari, dia ada di situ. Alangkah, dia selalu ada walau tanpa saya perlu meminta-minta, apalagi mengada-ngada.
Image
Dari bukit yang berbanjar, kutemui Dia antara teduhan pohon.
Image
Antara seni yang saya minati.  Bagaimana rakaman lensa kamera, dapat merangkul cinta tentang Dia.
Image
Bagus sekali untuk memanjakan kulit yang lelah dengan cuaca bahang sekarang.  Bagus juga untuk  menghilangkan mengada-ngada.
Image
Dia memang halimunan. Ada di mana-mana dalam ketiadaan.  Ada di mana-mana dalam ketidakpedulian.  Dalam bayang. Dalam miraj. Dalam mimpi. Ambiguous. Anonymous. 
Image
Saya melihat kehalobaan di mana-mana. Mahu memiliki segala yang ada.  Rasa mempunyai. Menguasai ruang. Merajai kewujudan.  Menginjak hak.  Menakluk kabut batin juga.
Image
Minggu minggu yang sarat. Menjenguk ke luar jendela ruang kerja, saya melihat matahari petang yang menebar jingga lelah. Sambil bersyukur, saya sering bertanya sendiri, bila akan hentinya semua rutinitas ini.
Image
Kadang kadang saya rasakan sayalah si patung itu. Cendana atau jauh sekali kencana.  Tidak ada yang termampu saya lakukan, melainkan mendoakan.
Image
Saat melihat unggas yang keluar dari sarang paginya. Saat turut merasa hangat dakapan ayah menitip anak di pintu sekolah. Saat bertembung dengan deru angin siang yang nyaman. Saat menghitung lajur perbukitan senja setiap kali menuju jalan pulang. Saya menghimpunkan rasa syukur dan sangat bahagia. Rupa rupanya itu belum lagi tanda syukur. Antara baris al A'raf: 17, syukur itu adalah taat. Dan saya ternyata masih jauh jalannya menuju negeri ketaatan itu. Jauh sekali.
Image
Saya sedang menuju jalan kembara lagi. Antara harap untuk bertemu. Antara waktu dhuha dengan ringkikan kudanya di perbukitan. Mengingat pesan Abah tentang mencintai anak-anak yatim, saya mengheret kaki tua ini untuk ke sana lagi. Saya perlu menumpang jiwa besarnya. Seperti catatan lama, saya menyitir lagi, saat begini segalanya menjadi doa. Dan saya sangat percaya sehingga pada hari bertemunya nanti, doa itu menggenap penuh. Benar, pada hari saya bertemu dengannya. Miqdad. 

Image
Sdr tahu keanehan tentang sebuah kehilangan? Akan ada talun yang memantulkan dirinya dari dinding gua. Saya petik begini bunyinya: tidak seperti yang engkau sangka. Engkau tidak kehilangan aku. Tahukah, bahawa aku akan sentiasa bersuara kepadamu melalui semuanya. Ya, menerusi kenangan lalu. Benar, saya menyitir baris Ozkan.
Image
Kampus sepi kembali setelah anak-anak mahasiswa pulang ke kampung halaman untuk bercuti panjang sebelum memasuki semester baru September nanti. Seperti selalu ini bukan juga masa rehat. Mesyuarat. Kerja penyelidikan. Penulisan yang banyak tertangguh. Kerja sukarela. Semua memerlukan perhatian yang saksama. Sedang kian banyak yang saya lupa, tidak peduli, ambil mudah. Semakin saya rasakan semua sudah berubah. Seperti pohon sukma atau danau sukma atau labuhan sukma, semuanya sudah tidak seperti sebelumnya.
Image
Saya bukan anti-jamuan hari raya idul fitr. Saya tidak bersetuju, jamuan diadakan semasa jam bekerja; apatah lagi persediaannya mengambil masa. Apa lagi dipenuhi dengan nyanyian bermaaf maafan. Apa lagi ada pertandingan gerai tercantik dan makanan paling enak. Apa lagi kalau setiap blok, tingkat dan jabatan mengadakan jamuan masing-masing. Bukankah memadai hanya satu jamuan (tanda mengenang fitrah) diadakan setiap institusi.  Apa lagi nantinya saya melihat longgokan sisa makanan yang sangat menyedihkan. Paling tidak namakan saja ia majlis riang ria! Apa lagi, kalau tidak saya ini dinamakan anti-jamuan hari raya idul fitr.
Image
Ilhamnya sewaktu saya bersama-sama sahabat infaq ke belantara Ranau. Ya, benar ia sequel "Rinai di Perkebunan" (Berita Harian, 16 Julai 2017). Terima kasih kepada Sdr Lutfi Zahid, editor yang menyiarkan.