Posts

Image
Saat mengetik ini, hujan musim yang mengguyur tanah, mulanya sangat berat kemudian saling bertukar sikap; lunak berselang hiba. Langit yang sudah kelabu, membawa sekian kali dia  menjarak walau dekat. Masa dan ruang yang merupakan antara teori kuliah kaji alam semasa mahasiswa, hampir tidak membawakan apa-apa erti lagi saat begini. Masa dan ruang yang sudah digenapkan dengan sepi. Sepertinya juga rutinitas dan formaliti melengkapkan segala menjadi sendiri. Sehinggakan Sar menyitir kepada dirinya, berusaha sebaik-baik untuk melupakan, tidak untuk melepaskan. Begitu rutinitas dan formaliti meledakkan kuasanya.
Image
Antara rasa bersyukur dengan ketakutan sebenarnya, apabila saya didatangi banyak sekali peringatan. Subhanallah. Dan saya tidak pernah meminta (atau saya meminta di bawah sedar) untuk sering diperingatkan. Subhanallah ia datang dari setiap penjuru mata angin yang ada. Semuanya datang mengetuk pintu kesedaran tanpa saya sangka sama sekali. Ya Allah, bagaimana saya didatangkan sahabat yang  menuntun saya setiap hari  dengan postings untuk lebih dekat dengan kebaikan. Bagaimana saya mengenali sosok yang mencintai anak yatim dalam seluruh hidupnya. Bagaimana saya bertemu dengan sahabat pesawat yang mengasuh saya untuk berikhlas hati. Bagaimana dengan tiba-tiba yayi yang muncul untuk selalu mengingatkan saya tentang ilmu solah. Ada juga yang menitip risalah tentang mencintai Rasulullah. Allah ya Allah. Setiap waktu dini saya disapa sahabat al-Qur'an yang seperti bunyi penggera, di mana tempat berjeda bacaan surah kami. Apa lagi yang saya tunggu untuk menjadi hamba Allah yang lebih bai…
Image
Saya demam sekembali daripada ranah asing. Demam seperti selalu setelah lelah atau mungkin sahaja apabila memaksa diri untuk segera menyertai jalan rutinitas kembali. Ringkih atau menjadi cengeng dengan bagaimana saya diperlakukan oleh tarikh-tarikh akhir lagi yang menunggu giliran di meja kerja. Atau apa seperti yang dibentangkan buat Pingkan saat Sarwono ditempatkan di rumah sakit di penghujung halaman Hujan Bulan Juni, demikianlah Surat Takdir pun dibaca berulang kali tanpa ada yang mampu mendengarnya.
Image
Sering saya merasakan berjarak itu jauh lebih baik. Dalam berjarak itu akan terhimpun corak rindu yang paling cantik.  Saya rasakan memasuki negeri sepi yang lengkap. Banyaknya nanti masa saya membaca al-Qur'an dan puisi sama ada di ruang berlepas,  saat bersandar ketika pesawat membelah awan atau di lobi hotel tempat saya menginap. Ternyata dalam berjarak, saya lebih dimengerti dan  disantuni. Saya seperti dapat rasakan kaki saya sangat berat mahu menolak troli bagasi menuju ruang ketibaan nanti dan lajur rutinitas kembali.
Image
Benar, kurang lebih 40 tahun saya tidak ke pawagam. Dia memujuk dan menyeret saya bertemu dengan Sarwono dan Pingkan. Hingga memperkenalkan saya tentang  mereka bahawa kasih sayang itu beriman pada senyap. Kasih sayang itu mengungguli segalanya menembus apa yang tidak bisa dipahami oleh pengertian  pinggir jalan. Kasih sayang juga ternyata sebuah ruang kedap suara yang merayakan  senyap sebagai  satu-satunya harap. 

Atau bagaimana nanti kasih sayang menyatukan sukma yang pernah hidup di ruang rahasia dalam lajur penciptaan, akhirnya membawa kepada pertemuan baru ini. Kasih sayang yang saya jalani di perbukitan Banyumanik.
Image
Masih di ranah asing dan saya seperti melihat kali ini dia masih datang untuk melipat jarak. Atau ini kesan intertekstual saya mula menikmati si Pingkan Melipat Jarak. Daya khayal saya yang selalu liar menemukan pasangan kawan camar yang sudah terbang terlalu jauh ke samudra dan merasa sangat letih tetapi tidak melihat  apa pun yang bisa dihinggapinya...walau demi dua ekor camar sangat letih yang terus-menerus terbang agar tetap bisa memelihara kasih  sayang. Walau hanya sejenak. 
Image
Mungkin ini satu antara lipatan pengakuan aneh saya: saat saya berjarak daripada rutinitas, seperti ada sosok yang mahu sekali bersahabat. Dia akan menghampiri dan mahu menyapa dengan salam dan dengannya saya rasa begitu terhormat. Ya, dia seperti mahu menemani saya yang sendiri. Seperti baris Rumi, malam hari kuminta rembulan datang..kututup pintu bahasa dan kubuka jendela cinta. Rembulan tak masuk lewat pintu. Hanya jendela. Benar, saat saya terbang lagi menuju ranah asing seperti kali ini, saya akan selalu temukan dia. Ya benar saya rasakan dia dekat dan seperti akhirnya nanti hinggap nyaman di dahan sukma. Aneh, dia hanya saya jumpa dalam berpergian, dalam lapis sunyi saat saya mencari-cari.
Image
AM sudah sering berbohong. Dan ia sangat memerihkan saya yang mendengarnya. Dada saya akan sangat sakit dan membawa saya untuk berdiam lama. Tidak mahu ada sebarang percakapan yang hanya akan mengundang geram dan sedih saya lagi. Seperti orang yang mahu berpergian, biar kami berjarak. Saya percaya dalam berjarak itu, banyak nanti yang kami lebih mengerti dan mungkin lebih menghargai. Rasanya monolog ini sangat klise. Ia  melantun-lantun. Ia seperti bola yang dipukul ke dinding, mengembalikan talun yang serupa. Atau mahu saja saya berdiri di puncak perbukitan ini, ya saya bayangkan ia adalah wilayah Miqdad. Dan ia akan segera memujuk hati tua saya.
Image
Ini titipan sempena kembara saya bulan lepas ke ranah gelombang besar, gelombang getir. Antara lain ia tentang hasrat yang masih berjarak, yang entah bila dapat saya rangkul. Ia juga tentang kecintaan saya terhadap anak yatim yang dianjur al-Qur'an, yang menjadi kecintaan Rasulullah. Baru sekarang saya berani ke pantai gelombang besar. Kerana apa? Kerana mengenang indahnya menyertai anak-anak yang kehilangan. Terima kasih kepada Sdr Nazmi Yaakub, editor BH yang menerima cerpen ini. Dan saya senang sekali dengan misteri pada ilustrasi cerpen kali ini. 

Sementara ini merupakan sambungan rencana saya di MM yang disiarkan dua minggu lalu.  Ya, judulnya juga sudah bertukar. Saya lebih senang jika dikekalkan judul, yang sebenarnya diubahsuai daripada petikan dalam tulisan saya ... guru yang membina keyakinan dan kepercayaan. Terima kasih kepada editornya, Sdr Sahidan Jaafar. Tahniah atas graduasi Sarjana Sains Politiknya besok. Ya saya akan menyertai acara bersejarah itu di Dewan Tun A…
Image
Minggu yang padat dan pendek, namun perjalanan yang melelahkan sekali, apalagi apabila dirasakan sangat sendiri. Segala-galanya harus siap sebelum bermula November. Dan November sendiri malah menjelang bulan hujung tahun sudah banyak yang mengisi. Subhanallah. Al-Qur'an yang saya cinta sering memujuk gundah yang selalu datang. Ya, lewat dua baris ad-Dhuha ini: Dia mendapatimu bingung lalu Dia memberikan petunjuk. Dia mendapatimu kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Allah ya Allah. Kepada siapa lagi saya mahu sandarkan segala gundah dan payah ini selain Dia ...