Saya tidak pernah akan melupakan wanita pikun ini. Usianya lanjut mencecah 80-an. Sepanjang bersama-samanya sejak kecil, saya melihat susuknya yang sangat melindungi. Suaranya lunak tapi pada ketika tertentu akan kedengaran mahu dimanjakan. Atau pada dentingan lain, saya seperti disergah untuk bangkit saat kaki terasa begitu lelah dan lengan rengsa saya berpaut pada semangatnya. Dia si pikun yang tidak pernah menyerah kecuali bulan terakhirnya. Saya banyak bercerita tentangnya khusus menerusi entri tahun 2013. Nenda Merah. Itu gelar saya buatnya. Merah juga sudah saya beritahu sebagai warna kecintaannya. Merah adalah ghairah, gelora, sukma, kuasa dan, malah cinta. Ya, dialah Nenda saya yang sudah berpulang, dan hari ini bukanlah tarikh akhirnya atau lahirnya. Bila-bila, malah setiap hari namanya tetap terisi dalam dada. Dia yang istimewa akan selalu ada. Nenda Merah berpulang tepat pada Tahun Baru Cina dengan baju merah yang merupakan pakaian terakhirnya. Malah doktor yang datang juga seorang Tionghua muda, membuat pengesahan pulangnya. Saya percaya, teman-teman kopitiam Tionghua Nenda Merah, sangat merinduinya hingga sekarang. Sebahagian besar pecahan hidup saya sudah hampir kehilangan semangat merahnya. Atau yang saya masih punya adalah selendang merah magisnya yang sempat dihadiahkan. Saya tahu saat saya lemah, selendang itu datang untuk melindung. Hawa merahnya empuk menghangatkan. Rangkulannya rapi, dekat dan kian mengakrab walau saya sangat sedar kami jauh daripada nyata untuk kembali bercanda, menyanyi atau saling mengasihi. Namun tautan kami selalu ada lewat doa dan asuhan memberinya yang saya kenang sampai bila-bila. Al Fatihah yang tidak putus buatnya. 

Comments

Anonymous said…
Subhanallah... Baru saya mengerti. Saya yakin sukmanya terzahir pada sosok sdr. Semoga Nenda Merah berada pada penjuru terbaik di sisiNya.
Mawar Safei said…
Sdr Anonymous
Aamiin ya Allah.
Atau sebenarnya selendang merah itu tanda nyata untuk hubungan halimunan kami? Tanda dia mahu terus melindungi, walau jauh daripada nyata?