Ramadhan kedua puluh empat. Sebelumnya, kita menanti Ramadhan dan sekarang pastinya masih ada yang menunggu malam seribu bulan. Menanti. Amalan yang jarang saya mahu lakukan sejak bergelar mahasiswa. Saya biasa sendiri. Saya tidak menanti berteman untuk ke kuliah atau ke perpustakaan mahupun ke kafe. Saya sebenarnya mudah lelah dalam menanti. Akan ada kecewa juga nantinya. Sehinggalah takdir melapangkan pintunya, saya jadi bersahabat dengan penantian ini. Saya sering menunggu bilakah munculnya. Ia membikin saya jadi selalu menunggu lama di penjuru sajadah mahupun bacaan al-Qur'an. Sesekali saya jadi dungu apabila harus menunggu dan ia mungkin saja tidak perlu. Sedang segala-galanya  terus berjalan dan tumbuh dan hidup, tanpa peduli siapa saya sama sekali. Apatah lagi, entah siapa yang mahu hirau dengan penantian dan pengharapan si debu yang berterbangan ini.   

Comments

Anonymous said…
Penantian suatu penyiksaan apatah lagi yang dinanti dianggap amat berharga. Namun penantian juga sering menghampar hikmah pada sukma yang tidak membeku dan menatap dengan penuh ta'akul. Barangkali yang muncul setelah penantian tidak seperti yang diharapkan namun apabila takdir yang terbuka pintunya, pasti ada pengajaran dan teladannya.
Mawar Safei said…
Sdr Anonymous
Saya tidak pasti adakah kita bercakap akan soal menanti dan menunggu yang sama. Terima kasih atas perhatiannya.