Muara
perutusan daripadanya

Saya kadangkala terlupa, yang saya ini anak kelahiran sebuah pulau. Dan betapa terikatnya (walau secara halimunan atau berjarak) dengan pantai, hanyir angin  dan ikan, atau pasir yang selalu melekat di tumit lalu mengikut pulang ke pintu rumah. Di luar garis sedar, senangnya saya dengan sungai, laut atau kenangan yang sudah sekian lama menghilang tahun. Ya, hingga kini, setiap kali mendepaninya, dada saya menjadi sempit dengan segalanya yang mahu berlumba-lumba mengasak masuk. Antara mahu mengingat atau membiarkan ia pergi dan datang lagi seperti ombak, seperti pawana kering yang terus mengapungkan maksud. Membaca tiap riak, samalah seperti menghitung kononnya pemilikan yang saya punya. Sedang mata kalbu  mahu menuntun terus agar saya selalu cermat dalam mencongak tiap angin yang singgah. Antara masih keliru, saya bersyukur setiap kali melihat karangan laut atau perahu yang tertambat atau  segala yang sebenarnya jauh daripada nyata.

Comments

Anonymous said…
Laut, pantai, ombak, bayu dan camar menjadi tautan ramai orang. Demikian jua, Sungai, perahu, nelayan, aur dan tebing sering menjadi labuhan ilham dalam mengungkap makna kehidupan, pertemuan, perpisahan dan kerinduan. Gambar hiasan yang saudara paparkan persis sekali dengan Sungai Johor yang pastinya memapar makna dan rahasia yang tiada siapa lebih mengerti selain Ilahi jua
Mawar Safei said…
Sdr Anonymous
Mata kalbu Sdr yang persis. Benar, ia adalah foto Sungai Johor, menurut sahabat yang menitipnya, sungai yang banyak menyimpan sejarah dan rahasia juga. Adakah Sdr juga dari Tanjung Puteri?