Jalan takdir

Melewati jalan ini menuju kampus, saya sering mengenang nenda yang jauh. Betapa saya rindu, betapa saya akan terus mencintai. Rindu dan cinta akan kasih sayangnya yang terus tumbuh hingga ke akhir nafas saya. Subhanallah. Mengapa saya mengenang nenda di jalan (takdir) ini? Mendongak pohon yang tinggal ranting dan dahan kosong, saya pernah bertanya tanya sendiri, inikah jalan akhir saya nantinya. Sewaktu nenda berpulang, ya beberapa hari lagi menggenap empat tahun, siapa pernah menyangka jalan yang digunakan setiap hari adalah jalan yang dilalui menuju penempatan abadi. Allah ya Allah.

Comments

Anonymous said…
Rupanya kita melewati jalan yang sama hampir setiap hari dan menatap pohon beranting yang sama. Saya juga menafsir ranting-ranting itu dengan mata kalbu, yang selain Allah, tiada siapa yang mengerti.
Mawar Safei said…
Sdr Anonymous,
Subhanallah. Jalan yang sama? Ranting dan dahan yang itu jugakah? Adakah Sdr mendengar rintihannya? Bingung rindunya?