Menjelang azan maghrib,  tetangga kami menerima khabar pemergian ayahnya. saya mendakap lama tetangga saya itu untuk meredakan tangis dan sebaknya. dalam saat tertentu dapat saya rasakan gelombang dan debar yang melanggar dadanya. o, bukankah saya sedang melalui sejarah besar dalam hidupnya apabila kehilangan ayah tercinta? apalagi yang saya dapat bisikkan saat saya meletak dagu di bahunya selain sabar dan redha. kemudian, betapa saya membayangkan selama kurang lebih lima jam perjalanan pulang ke halaman keluarganya di utara, selama itulah kesedihan yang panjang begitu mengepung jiwanya. ya Allah itulah saat sengsara dan seribu hiba! saya tahu sepanjang lima jam itu tetangga saya akan kembali ke zaman kecilnya digendong ayah sehingga dia menjadi sekarang, menggendong anak sendiri. banyak kenangan yang berebut masuk dan tetangga saya pasti akan menangis lagi. saya berdoa semoga tetangga saya diberikan kelapangan hati dan dibuang segala kesedihan. ya, saya berjanji untuk mendoakan kesejahteraan perjalanan pulang abadi ayahanda tercintanya lewat solat kami malam ini. al fatehah....



Comments

Nai Abu said…
Al-fatehah.
Perjalanan hidup itu sangat singkat. Kita perlu saling menghargai dan jauhi sifat membenci. Andai semua orang berfikir begitu, dunia pasti bersatu dan itu sukar berlaku...
Mawar said…
Nai,
al fatehah. ya, hidup yang sangat singkat!
Gurindam Jiwa said…
al-Fatihah

الفاتحة