Saya dididik abah sejak kecil untuk menghormati perasaan orang lain dengan analogi yang cantik, yang saya kenang hingga hari ini. suatu petang yang lampau, saya membeli ais krim dan diminta abah menyudahkannya di dalam rumah sahaja; walau tiada anak tetangga di luar, teman-teman sepermainan. namun saya mengerti sekarang, abah mengasuh saya untuk menerima tidak pula semua manusia mempunyai hati yang serupa...

Comments

wardah munirah said…
Assalammualaikum, Dr Mawar.

Perkongsian coretan Dr ini meskipun rngkas tetapi sangat memberi kesan kepada saya sebagai pembaca. Terima kasih, Dr.
Mawar said…
Wardah, tetamu setia saya,

terima kasih.
ya, begitulah didikan ibu bapa yang banyak berbekas dalam peribadi kita...
Dr.
Orang tua-tua kita tak berpendidikan tinggi, tapi kaya dengan prinsip dan falsafah hidup, tinggi nilai kemanusiaannya, diterjemahkan dalam kehidupan seharian dalam bentuk yang sangat simple.
Malang - kita gagal memahami, merasa diri tinggi dan melihat mereka ke bawah dan berkata - 'ah, itu kolot !
Akhirnya, kita kehilangan jatidiri,
sesat, kabur, kehilangan jalan kembali.
Mawar said…
sdr Zainal yang baik

terima kasih atas pandangan. ya, sudah tentu kita antara anak-anak yang masih memuliakan mereka...
armanizan said…
Assalammualaikum, Dr Mawar.

Pembacaan saya terhadap cerita ini memberikan kembali ingatan saya terhadap arwah abah saya yang tersayang. Sesungguhnya seorang bapa lebih mengerti anak-anak mereka
rayyan zilfi said…
Salam semua!

kenangan sewaktu kecil dahulu sungguh mengusik jiwa ini.dan kini....teruskan.
Mawar said…
Rayyan
begitulah, senang untuk dikenang dan banyak pelajarannya...