Dini ini saya melewati baris surah al A'raf tentang adab  berdoa. Antaranya, berdoa dengan rendah hati, suara yang lunak, dengan penuh takut  dan menggenap harap. Saya mengenang apabila doa menjadi rutinitas. Doa sebagai tulisan di atas kertas yang diulang ulang tanpa pengertian. Doa yang mungkin sahaja tidak difahami maknanya sama sekali. Doa yang hanya dilafaz namun tidak berbekas. Apalagi doa jadi buru-buru. Doa jadi upacara sehingga hilang rima sukmanya. Doa yang tidak ada jeda, bagi merasakan hubungan erat dengan apa yang dipohon. Saya selalu melihat tangan yang mengadah sewaktu berdoa. Selalu melihat diri saya sedang mengemis. Saya mahu berdoa setulusnya, sebagai amalan dan kepercayaan bahawa saya punya tempat meminta. Satu-satunya.

Comments

Anonymous said…
Berdoa menjadikan kita semakin hampir dan merasa begitu fakir tanpaNya. Ya satu-satunya tempat mengharap.
Mawar said…
Sdr Anonymous
Dalam keadaan sekarang, doa menjadi senjata paling ampuh.